Minggu, 30 Januari 2011

Membangun Semangat Kau dan Aku Satu

Membangun Semangat Kau dan Aku Satu
Oleh Abdul Basyid*
   Indonesia negeri yang kaya raya akan tradisi  rasa syukur terhadap tuhan Yang Maha Esa . Ini tercermin dari berbagai tradisi  yang masih   bertahan di tengah masyarakat. Seperti sedekah bumi, sedekah laut,  
puputan, dan lain - lain. Belum lagi dari ciri khas ketimuran yang mengedepankan nilai - nilai musyawarah dalam bertindak, sopan santun, ramah tamah, dan taat beribadah, hingga cerita - cerita rakyat yang berisi piwulang rasa bangga terhadap bangsa dan negara ini.
Budaya adi luhung yang begitu indah dan tinggi nilai - nilai edukasi religiusnya kini tengah  terusik oleh berita - berita di TV yang beraromakan  kekerasan. Seperti tawuran antarpemuda atau etnis diberbagai daerah, sentimen agama, gank montor, KDRT, hingga sampai ekses pilkada. Semua peristiwa terus berkembang dari hari ke hari, hingga aparat keamanan bingung tujuh keliling.
     Melihat potret di atas, muncul satu hipotesa bahwa kekerasan telah menjadi bagian dari budaya bangsa dalam menyelesaikan permasalahan.
Satu Nusa Satu Bangsa
Semangat satu nusa satu bangsa di negara ini betul - betul diuji. Baik dari dalam maupun luar. Kondisi ini sebenarnya sudah disadari semua komponen anak bangsa.  Tapi sayangnya ketika persoalan dikembalikan pada setiap individu muncul upaya saling menyalahkan atau merasa dirinya merasa yang paling benar. Jika sudah demikian  nilai - nilai kebhinika tunggal ikaan menjadi isapan jempol.
Secara sunatullah Indonesia memang negara yang diciptakan olehNya dengan ragam kenyakinan, ragam tradisi, ragam bahasa, dan ragam penampilan. Ragam yang beraneka rupa dari Sabang sampai Merauke pada dasarnya merupakan pembelajaran dari Allah kepada rakyat Indonesia. Yakni sejauh mana rakyat Indonesia yang terkenal religiusnya ini  bisa mengimplementasikan makna saling kenal ( li ta'arafu ) dalam bermasyarakat. Apabila makna saling kenal ( li ta'arafu ) dalam bermasyarakat dapat diwujudkan dalam bermasyarkat dan bernegara maka dengan sendirinya akan muncul rasa saling menyanyangi dan menghargai.
Kau dan Aku Satu
     Kekerasan terstruktur atau spontan yang terus terjadi dari waktu ke waktu serta meningkat  kualitas dan kuantitasnya, telah mengusik kenyamanan kita. Baik di saat bekerja, bermasyarakat atau beribadat. Dari sisi aktor,  ya itu - itu saja begitu pula dengan persoalannya  tidak jauh berbeda dengan persoalan terdahulu.  Untuk menghindari agar tidak berkembangnya budaya kekerasan  disekitar kita, mari  ciptakan semangat kau dan aku satu. Kau dan aku satu merupakan inti dari nilai - nilai kasing sayang.
     Apabila semangat kau dan aku satu ini digelorakan di tengah kemajemukan  bangsa ini maka  perasaan  merasa paling pintar, paling benar, paling hebat dengan sendirinya akan terkikis. Sehingga rasa saling menghormati, indahnya kebersamaan dan empati akan terus menjadi napas bangsa ini. Dengan demikian kekhawatiran hilangnya semangat nasionalisme dan patriotisme akan pupus        

Abdul Basyid
Sekretaris Lesbumi kec. Kaliwungu Selatan
Tinggal di perumahan Kaliwungu Indah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar