Minggu, 30 Januari 2011

NU bukan Nunut Urip

NU bukan Nunut Urip
Oleh Abdul Basyid*

   Nahdlotul Ulama atau NU adalah jam'iyah diniyah ( organisasi keagamaan ) yang berdiri  pada tanggal 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926 M di Jombang Jawa Timur yang pandegani oleh K.H. Hasyim As'ari. Nahdlotul Ulama yang berarti kebangkitan para ulama.
   Tujuan didirikannya NU adalah memelihara, melestarikan, dan mengamalkan ajaran islam yang berhaluan Ahlussunah Waljamaah dengan menganut salah satu mazhab, serta mempersatukan langkah para ulama beserta pengikut - pengikutnya dan melakukan kegiatan - kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat serta martabat manusia.
Dari tujuan itu, jelas jika NU sebenarnya sangat peduli sekali terhadap sumber daya manusia dan kemajuan bangsa. NU menyadari betul bahwa semakin tinggi kualitas sumberdaya yang dimiliki sebuah bangsa akan berimbas pada kemajuan bangsa. Seperti Jepang, Jerman, dan lain - lain. Apalagi di era globalisasi informasi dan persaingan dunia usaha. Di mana pada masa ini manusia yang berkualitas dan berdedikasi tinggi mereka yang mampu memenangkan persaingan.
Di sisi lain NU juga harus membetengi ummatnya agar martabatnya tidak dirusak oleh arus globalisasi informasi. Banyak generasi emas bangsa ini yang berguguran di tengan jalan masa depannya karena tidak mampu menahan kuatnya arus globalisasi informasi. Bahkan yang amat disayangkan munculnya budaya kekerasan di setiap penyelesaian masalah. Mereaka lebih percaya kepada pentungan dan lemparan batu dari pada putusan pengadilan. Jika budaya kekerasan ini terus berkembang akan  mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang ujung - ujungnya dapat  mengusik keberadaan Pancasila dan NKRI. Padahal bagi NU Pancasila dan NKRI adalah final.
Menunggu Kebijakan Kang Said
Pasca muktamar NU 2010 di Makassar banyak kalangan intelektual muda NU  menunggu kebijakan strategis dari KH Agil Siraj selaku ketua  umum PBNU. Terutama kebijakan  yang berhubungan dengan  semakin rumitnya persoalan bangsa. Diantaranya  yang menyangkut hajat hidup orang banyak yakni masalah kebutuhan pokok dan pengangguran intelektual.
Jika dicermati secara jernih permasalahan tersebut tiap tahun terus terjadi. Ini seirama dengan berubahnya mainstrem masyarakat Indonesia yakni dari pertanian ke Industri. Melihat fenomena tersebut sebaiknya  PBNU melakukan refitalisasi  lembaga NU, seperti LP2NU, LAZISNU, LPKNU, LAKPESDAM. Agar mereka yang duduk dalam kepengurusan lembaga itu dapat berkarya lebih nyata untuk kemaslahatan ummat. Bahkan jika perlu ada reposisi dan koordinasi yang lebih intens ke tingkat bawah.   Dengan harapan semua program lebih terarah dan bisa dirasakan oleh ummat. Disamping itu juga akan menciptakan kemandirian.
Dan yang tidak kalahnya pentingnya atau bahkan lewat dibenak PBNU adalah masalah TKI. Persoalan TKI cukup menyita energi. Setiap tahunnya selalu ada TKI yang bermasalah dan selalu pulang paksa. Ironisnya yang berangkat pun juga banyak. Bahkan kebanyakan TKI tersebut dari kantong - kantong NU di tanah air. Maka tidak salahnya jika PBNU turut serta menyelesaikannya. Apalagi menteri menakernya dari  kader NU. Ditambah lagi NU memilik cabang istimewa di luar negeri. 

    
Abdul Basyid
Sekretaris Lesbumi kec. Kaliwungu Selatan
Tinggal di perumahan Kaliwungu Indah




Tidak ada komentar:

Posting Komentar