oleh Abdul Basyid *
The long live education .
Itu pernyataan yang pas untuk menyikapi satu tradisi belajar yang di tengah masyarakat. Bahkan kebiasaan itu berlangsung secara turun temurun. Meskipun jaman sudah berubah. Tradisi belajar itu adalah ngaji.
Ngaji merupakan proses belajar yang dititikberatkan pada persoalan agama. Kegiatan ini dapat kita jumpai diperbagai tempat di seluruh negeri ini. Baik di kota mapun di pelosok desa. Jamaahnya pun bervariasi dari yang muda hingga kakek / nenek. Begitu pula tempatnya ada yang di masjid, musholla, majlis ta’lim atau di rumah para ustazdnya.
Metode yang dipakai dalam mengaji adalah auditorial. Atau oleh orang – orang kampung dikatakan ngaji Nguping ( Jiping) . Dikatakan ngaji nguping karena proses alih informasinya dengan merode mendengarkan. Sehingga kegiatan ngaji nguping cenderung satu arah, monoton dan membosankan.
Di berbagai tempat di kabupaten Kendal kegitan ngaji nguping dapat dijumpai setiap harinya. Apalagi di bulan ramadhan ini. Waktunya sangat variasi. Dan tempatnyapun tidak satu lokasi. Misalnya antara Sabtu hingga Kamis di masjid Al Muttaqin Kaliwungu yakni ngaji tafsir Al Quran yang diampu oleh KH. Nidzomudin. Waktunya pukul 05.30 – 07.00. Selasa dan Sabtu di majlis ta’lim Bani Umar Al Karim yang dipandu oleh KH. Muhibbudin. Waktunya pukul 08.00 – 10.00 WIB. Di rumah KH. Sholahudin yakni setiap hari kecuali malam Jum’at yakni ba’da sholat Magrib hingga azan sholat Isya. Di kampung Kauman juga ada yakni di Ustazd Lukman Hakim yang berlangsung setiap hari dari pulul 20.00 - 22.00 WIB. Dan masih banyak lagi.
Motivasi
Kegiatan ngaji nguping atau mulang ngaji nguping mencapai klimaknya ketika bulan suci Romadhon. Dari pagi hingga larut malam tempat – tempat tersebut selalu ramai didatangi para santri baik dari sekitar atau luar daerah. Motivasinya mengharap berkah dari bulan Ramadhan.
Selain itu motivasi tersebut, semangat mengaji juga dilandasi niat ibadah dengan tujuan supaya bener. Bukan pinter. Jika sudah bener silahkan untuk tidak ngaji dulu.
Mengapa motivasinya supaya bener kok bukan pinter ? Inilah yang terkadang menjadi tanda tanya oleh jama’ahnya. Ternyata banyak orang pinter di tengah – tengah kita banyak yang prilakunya tidak bener. Sehingga banyak kita jumpai persoalan – persoalan di negeri disebabkan oleh orang – orang pinter.
Konsep 5 D
Meski terbilang kuno ngaji nguping yang sering dilalukan oleh masyarakat Indonesia ternyata memiliki konsep 5 D yakni Datang, Duduk, Dengar, Diingat dan Dipraktikan. Yang dimaksud datang adalah menghadiri pengajian dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati. Setelah itu carilah tempat duduk sesuka hati. Tidak ada tempat yang permanen. Siapa yang datang paling awal , maka banyak peluang mencari tempat yang paling asyik dan rileks. Ketika proses ngaji nguping telah mulai jama’ah dengan penuh kesadaran mendengarkan uraian dari kiai atau ustazd. Jika ada kesempatan untuk bertanya para jamaah biasanya berebut untuk mengajukan pertanyaan.
Tak jarang persoalan yang ditanyakan adalah masalah – masalah yang aktual dan terkini. Seperti tentang hukum bagi – bagi uang pada saat pilkada, hukum merokok, dan lain – lain.
Pada saat mengaji jamaah tidak dituntut harus membawa buku catatan atau memiliki kitab, maka yang diharapkan oleh kiai atau ustazd adalah mengingat – ingat. Hal ini dapat dimaklumi karena jamaah ngaji nguping kebanyakan berusia di atas 40 tahun dan bahkan sudah udzur. Untuk soal mempraktikan, kiai atau ustazd tidak pernah memaksa. Yang penting mereka mau meluangkan waktu untuk mengaji sudah sangat luar biasa.
Wisata Religi
Ngaji nguping ( Jiping ) adalah salah satu dari sekian bentuk wisata religi. Bahkan ngaji nguping tergolong wisata religi terbilang murah meriah. Karena kiai atau ustazd tidak pernah minta imbalan atau iuran. Bagi kiai atau ustazd kedatangan mereka adalah berkah buatnya. Lebih banyak jamaahnya berarti semakin manfaat ilmu dimilikinya
Untuk itu marilah kita luangkan waktu untuk mengaji, agar hati kita tidak kering. Dan terlebih lagi kita dapat memfilter segala persoalan yang menyangkut masalah kenyakinan berakidah. Tanyakan pada kiai atau ustazd kita tentang berkenyakinan jangan sampai bertanya kepada rumput yang bergoyang.
Abdul Basyid*
Penulis adalah sekretaris
Lembaga Seni dan BudayaMuslimin Indonesia
(Lesbumi) Kecamatan Kaliwungu Selatan
tinggal di Perum. Kaliwungu Indah