Senin, 31 Januari 2011

Jiping : Alternatif Wisata Religi dari Kaliwungu

Jiping : Alternatif Wisata Religi
oleh Abdul Basyid *
 The long live education .
      Itu pernyataan yang pas untuk menyikapi satu tradisi belajar yang di tengah masyarakat. Bahkan kebiasaan itu berlangsung secara turun temurun. Meskipun  jaman sudah berubah. Tradisi belajar itu adalah ngaji.  
      Ngaji merupakan proses belajar yang dititikberatkan pada persoalan agama. Kegiatan ini dapat kita jumpai diperbagai tempat di seluruh negeri ini. Baik di kota mapun di pelosok desa. Jamaahnya pun bervariasi dari yang muda hingga kakek / nenek. Begitu pula tempatnya ada yang di masjid, musholla, majlis ta’lim atau di rumah para ustazdnya.
      Metode yang dipakai dalam mengaji adalah auditorial. Atau oleh orang – orang kampung dikatakan ngaji Nguping ( Jiping) . Dikatakan ngaji nguping karena proses alih informasinya dengan merode mendengarkan. Sehingga kegiatan ngaji nguping cenderung satu arah,  monoton dan membosankan.
      Di berbagai tempat di kabupaten  Kendal kegitan ngaji nguping dapat dijumpai setiap harinya. Apalagi di bulan ramadhan ini.  Waktunya sangat variasi. Dan tempatnyapun tidak satu lokasi. Misalnya antara Sabtu hingga Kamis di masjid Al Muttaqin Kaliwungu yakni ngaji tafsir Al Quran yang diampu oleh KH. Nidzomudin. Waktunya pukul 05.30 – 07.00. Selasa dan Sabtu di majlis ta’lim Bani Umar Al Karim yang dipandu oleh KH. Muhibbudin. Waktunya pukul 08.00 – 10.00 WIB.  Di rumah KH. Sholahudin yakni setiap hari kecuali malam Jum’at yakni ba’da sholat Magrib hingga azan sholat Isya. Di kampung Kauman juga ada yakni di Ustazd Lukman Hakim yang berlangsung setiap hari dari pulul 20.00 - 22.00 WIB. Dan masih banyak lagi.
Motivasi   
       Kegiatan ngaji nguping atau  mulang ngaji nguping mencapai klimaknya ketika bulan suci Romadhon. Dari pagi hingga larut malam tempat – tempat tersebut selalu ramai didatangi para santri baik dari sekitar atau luar daerah. Motivasinya mengharap berkah dari bulan Ramadhan.
           Selain itu motivasi tersebut, semangat mengaji  juga  dilandasi niat ibadah dengan tujuan supaya bener. Bukan pinter. Jika sudah bener silahkan untuk tidak ngaji dulu.
           Mengapa motivasinya supaya bener kok bukan pinter ? Inilah yang terkadang menjadi tanda tanya oleh jama’ahnya. Ternyata banyak orang pinter di tengah – tengah kita banyak yang prilakunya tidak bener. Sehingga banyak kita jumpai persoalan – persoalan di negeri  disebabkan oleh orang – orang pinter.
Konsep 5 D
           Meski terbilang kuno ngaji nguping yang sering dilalukan oleh masyarakat Indonesia ternyata memiliki konsep 5 D yakni Datang, Duduk, Dengar, Diingat dan Dipraktikan. Yang dimaksud datang adalah menghadiri pengajian dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati. Setelah itu carilah tempat duduk sesuka hati. Tidak ada tempat yang permanen. Siapa yang datang paling awal , maka banyak peluang mencari tempat yang paling asyik dan rileks. Ketika proses ngaji nguping telah mulai jama’ah dengan penuh kesadaran mendengarkan uraian dari kiai atau ustazd. Jika ada kesempatan untuk bertanya para jamaah biasanya berebut untuk mengajukan pertanyaan.
             Tak jarang persoalan yang ditanyakan adalah masalah – masalah yang aktual dan terkini.  Seperti tentang hukum bagi – bagi uang pada saat pilkada, hukum merokok, dan lain – lain.
              Pada saat mengaji jamaah tidak dituntut harus membawa buku catatan atau memiliki kitab, maka yang diharapkan oleh kiai atau ustazd adalah mengingat – ingat. Hal ini dapat dimaklumi karena jamaah ngaji nguping kebanyakan berusia di atas 40 tahun dan bahkan sudah udzur. Untuk soal mempraktikan, kiai atau ustazd tidak pernah memaksa. Yang penting mereka mau meluangkan waktu untuk mengaji sudah sangat luar biasa.
Wisata Religi
       Ngaji nguping ( Jiping ) adalah salah satu dari sekian bentuk wisata religi. Bahkan ngaji nguping tergolong wisata religi terbilang murah meriah. Karena kiai atau ustazd tidak pernah minta imbalan atau iuran. Bagi kiai atau ustazd kedatangan mereka adalah berkah buatnya.  Lebih banyak jamaahnya berarti semakin manfaat ilmu dimilikinya
        Untuk itu marilah kita luangkan waktu untuk mengaji, agar hati kita tidak kering. Dan terlebih lagi kita dapat memfilter segala persoalan yang menyangkut masalah kenyakinan berakidah. Tanyakan pada kiai atau ustazd kita tentang berkenyakinan jangan sampai bertanya kepada rumput yang bergoyang.          



Abdul Basyid*
Penulis adalah sekretaris
Lembaga Seni dan BudayaMuslimin Indonesia
(Lesbumi) Kecamatan Kaliwungu Selatan
tinggal di Perum. Kaliwungu Indah   


Ketuwen di Tengah Peralihan Budaya Masyarakat Kaliwungu

Ketuwen di Tengah  Peralihan Budaya
 Masyarakat Kaliwungu
Oleh : Abdul Basyid
Sejak Kaliwungu diproyeksikan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di wilayah Jawa bagian utara oleh Bupati Kendal,  menjadi tanda tanya sebagian masyarakat Kaliwungu. Kekhawatiran ini wajar, mengingat belum adanya informasi dan sosialisasi yang akurat dari pemerintah tentang apa itu KEK, dan bagaimana manfaat KEK untuk  masyarakat Kaliwungu. 
Kekhawatiran – kekhawatiran yang berkembang di masyarakat jika ditelusuri ada tiga macam. Yakni kekhawatiran  ekonomi, kekhawatiran sosial budaya, dan kekhawatiran tataruang kota. Potret kekhawatiran tersebut jangan sampai dibiarkan begitu saja. Apa yang terjadi terhadap Jakarta, Semarang, dan kota –kota besar lainnya jangan sampai terulang di Kaliwungu.
Kaliwungu adalah kota santri. Julukan yang melekat ini tidaklah ringan untuk disandang. Meskipun fakta berbicara kalau di Kaliwungu banyak dijumpai pondok persantren, dan itu merupakan pusat pembelajaran agama. Bahkan kondisi kesantrianpun dapat dilihat dari budaya masyarakat setempat. Kesantrian masyarakat Kaliwungu ternyata memberi warna terhadap budaya (baca : tradisi). Yang inilah menjadi pembeda antardaerah. Perbedaan inilah yang sebenarnya memberi khasanah budaya bangsa ini. Dan marilah tradisi-tradisi ini terus kita pelihara, meskipun terjadi  peralihan paradigma masyarakat.
Lain ladang lain belalang.
Lain ladang lain belalang itulah ungkapan yang tepat untuk menyikapi keanekaragaman budaya negeri ini. Maka tidaklah berlebihan jika negeri kita mendapat julukan negeri sejuta pesona. Baik pesona alam maupun pesona budaya. Budaya yang berkembang tidak lepas dari pengaruh kenyakinan masyarakat setempat. Seperti agama yang dianutnya. Contohnya ketika kebahagian menyambut Iedul Fitri muncullah budaya halal bil halal. Ketika Iedul Adha masyarakat Demak mengadakan Gerebek Besaran. Ada pula Sekaten di Solo. Dug deran dan budaya padusan menjelang Romadhon pun terpelihara dengan baik oleh masyarakat kita.
Salah satu dari budaya yang berkembang di tengah masyarakat adalah Ketuwinanan. Budaya ini memang kurang populis bagi masyarakat di pesisir utara. Namun kalau kita dekati secara ilmu budaya,  ketuwinan ini memberi pembelajaran yang luar biasa kepada masyarakat. Cuman sayang budaya ini hanya ada di kecamatan Kaliwungu. Yakni sebuah kota kecil yang di sebelah barat kota Semarang.
Bagi masyarakat Kaliwungu Ketuwin merupakan hari raya ketiga setelah Iedul Fitri dan Iedul  Adha. Sehingga orang-orang tua terdahulu sering menyebutnya Bodho Ketuwin. Ketuwin secara morfologi  berasal dari kata dasar tuwinuweni – ketuwin. Tuwi berarti tilik, nuweni (nilik’i : mengunjungi), ketuwin (saling mengunjungi ).    
Tradisi Ketuwinan
      Mengapa masyarakat Kaliwungu begitu antusias memelihara budaya Ketuwinan ?
Pertama Ketuwinan merupakan implementasi dari  silahturohim. Penggambaran silaturrohim di ketuwinanan adalah weh – wehan. Kedua waktu penyelenggaraan di bulan Maulud yakni bulan ketiga di kalender Hijriyah. Pada bulan Maulud semua masyarakat dunia bergembira karena pada bulan ini Allah SWT telah mengirimkan sosok manusia yang menjadi suri tauladan dan memberi keberkahan seluruh umat manusia yakni Muhammad SAW. Kebahagian itu juga dirasakan oleh masyarakat Kaliwungu. Kekegembiraan itu  sudah tergambar ketika  memasuki hari – hari terakhir di bulan Safar. Di hari terakhir bulan Safar masyarakat Kaliwungu menyelenggarakan  Rebo  Pungkasan. Rebo Pungkasan berarti Rabu terakhir di bulan Safar. Acara Rebo Pungkasan adalah berzanji ( baca kitab maulud) dilaksanakan pagi hari. Di mulai pukul 05.30 WIB. Seluruh masyarakat tumpah ruah mendatangi musholla-musholla atau surau-surau dengan membawa jajan yang sudah disiapkan dini hari.
       Ternyata Rebo Pungkasan menjadi awal diadakannya weh-wehan di sore hari. Weh-wehan  yaitu saling bertukar jajan. Weh-wehan dilaksanakan setiap hari Kamis setelah anak-anak kecil pulang madrasahan. Selain itu, Rebo Pungkasan juga sebagai pembuka diadakan berzanji malam hari  di musholla sampai tanggal 12 Maulud.
       Ketiga adanya motivasi untuk berkarya dan berprsetasi. Perwujudan  berkarya di saat
Ketuwinan seperti membuat teng – tengan, menginovasi pembuatan manggar dan menciptakan aneka makanan.  Sedangkan wujud dari prestasi, diadakannya lomba – lomba untuk anak – anak madrasahan. Seperti lomba baca maulud, khitobah, kaligrafi, dan seni baca Al qur’an. Keempat penyelamat makanan tradisional. Di saat ketuwinan banyak makanan khas rakyat dimunculkan kembali. Seperti sumpel, kupat jembut, ketan abang ijo, ketan srondeng, kicak, dan klepon.
Ada apa dengan Weh-wehan
       Weh-wehan merupakan perwujudaqn dari  silaturrohim ? Weh-wehan berasal dari kata weneh (bahasa Jawa yang berarti diberi). Weh-wehan merupakan kata ulang  / reduplikasi yang bermakna saling. Sehingga weh-wehan bermakna saling memberi / bertukar jajan. Ketika  proses saling memberi terjadilah hubungan saling mengunjungi. Namun demikian, hakikat weh-wehan tidak  sebatas saling tukar jajan atau mengunjungi saja . Menurut para kiai sepuh di Kaliwungu bahwa weh-wehan memberi pembelajaran yang sangat mulia. Pertama weh-wehan bermakna berbagi kebahagian.  Pada weh-wehan semua anak membaur jadi satu. Tidak dipandang si kaya atau si miskin, muslim atau nonmuslim. Kondisi ini sesuai  dengan misi nabi Muhammad SAW diturunkan ke bumi yakni sebagai rohmatalil alamin. Kedua dengan Weh-wehan diharapkan muncul budaya tepo sliro (saling menghormati). Ketiga lewat budaya weh-wehan diharapkan akan tumbuh budaya sodaqohan. Keempat ta’arufan yang artinya saling kenal.
Sumpel
       Ketuwin terasa kurang jos jika tidak ada sumpel. Sumpel diyakini merupakan makanan khas Kaliwungu. Sehingga setiap kali peringatan ketuwin digelar ada beberapa hal yang tidak dapat ditinggalkan yakni memasang teng-tengan di depan rumah, mauludan / berzanji setiap hari, dan weh – wehan.  Dari semua kegiatan di bulan Maulud weh – wehan banyak menyita perrhatian, karena pada kegiatan itu  muncullah beberapa makanan khas Kaliwungu. Salah satunya adalah sumpel. Sumpel adalah makanan  berbahan dasar beras yang dibungkus daun bambu dan berbentuk segitiga. Pasangan sumpel adalah sambel kelapa. Memasak sumpel seperti layaknya memasak lontong atau ketupat. Kesulitan membuat sumpel adalah sulitnya mencari daun bambu yang ukurannya besar. Padahal di Kaliwungu sekarang ini untuk mencari daun bambu yang idial untuk membuat sumpel sangat sulit. Sehingga tak jarang mereka pesan kepada orang lain yang bertempat tinggal di luar Kaliwungu. 
       Mengapa sumpel menjadi  makanan khas ketuwin. Ternyata bentuk sumpel inilah yang mengandung makna filosofis. Sumpel berbentuk segitiga ketika diposisikan berdiri.
Dengan demikian  hanya ada satu ujung (sudut) yang berada di atas. Sedangkan ujung (sudut) yang lain berada di bawah kanan kiri. Ujung di atas merupakan perlambang hablu minallah (  selalu ingat kepada Allah SWT). Sedangkan ujung bawah kanan kiri, merupakan perlambang hablu minannas ( hubungan antarmanusia ). Semoga ketuwinan di Kaliwungu akan terus memberi berkembang dan memberi kemanfaat. Amin

Abdul Basyid
                              Penulis adalah sekretaris
Lembaga Seni dan BudayaMuslimin Indonesia
(Lesbumi) Kecamatan Kaliwungu Selatan
tinggal di Perum. Kaliwungu Indah.

Essay Lepas :

Refleksi Makna Warna Bendera
Oleh : Abdul Basyid, S.Pd
Menjadi satu yang menarik ketika melihat sekumpulan bendera berjajar. Dengan warna dan gambar yang beraneka rupa. Kemeriahan kibaran mengusik cerita lama yakni bahwa warna dan gambar merupakan perlambang / isyarat sebuah organisasi. Sehingga orang dapat menerka – terka kemana organisasi ini akan dibawa.
Lalu bagaimana dengan merah putih ? Merah putih adalah warna bendera bangsa Indonesia. Hal ini telah tegaskan dalam UUD 1945 yakni pasal 35. Dengan demikian tidak ada dalih untuk mengibarkan bendera kebangsaan selain warna merah putih di seluruh negeri – dari Sabang sampai Merauke.
Pengibaran bendera kebangsaan selain merah putih jelas suatu pelanggaran konstitusi. Pun melukai hati pejuang negeri ini. Selain alasan tersebut merah putih mempunyai nilai – nilai yang luar biasa untuk negeri ini. Sepeti nilai historis, patriotis, nasionalis, dan kebersamaan.
Arti Merah Putih
      Suatu hari, seorang guru SD kelas V tengah bercerita tentang makna dari warna sangsaka merah putih. Dengan semangat berapi – api beliu menjelaskan hakikat dari warna merah. Katanya merah itu berani, merah itu semangat, merah itu pantang menyerah sambil tangannya mengepal ke atas. Lalu diapun memberikan contoh prilaku yang mencerminkan warna merah di kehidupan sehari – hari. Seperti tegas dalam mengambil keputusan, pantang menyerah dalam bekerja dan belajar, loyal dan hormat terhadap peraturan. Dan diapun tak lupa dia mengambil contoh para pahlawan negeri ini. Seperti Pangeran Diponegoro, Bung Hatta, Hasanudin, dan Jendral Sudirman.
       Selesai bercerita tentang hakikat warna merah pada bendera Indonesia, sang gurupun mulai menjelaskan tentang hakikat warna putih. Dengan kelembutan seorang guru dia mengatakan bahwa putih itu suci, putih itu ikhlas atau tanpa pamrih, putih itu kejujuran. Diapun tak lupa memberi contoh prilaku yang menyimpang dari makna warna putih. Seperti korupsi, berdusta, manipulasi, pungli, dll.
      Selesai menjelaskan hakikat warna bendera, Sang guru SD kelas V meminta kepada siswanya tatkala upacara bendera harus tertib dan tenang, apalagi disaat pengibaran sangsaka merah putih. Muridpun terdiam mendengar ajakan dari sang guru.
       Selesai menjelaskan dan menyampiakan himbauan sang guru memberi waktu kepada anak didiknya untuk bertanya.
Siapa yang kurang jelas ... ?
Silahkan bertanya .... ! kata Sang guru.
Dengan agak takut Dita bertanya.
" Bu ! Apakah adakah kemungkinan bendera Indonesia akan berubah warnanya  jika prilaku dari pejabat tidak mencerminkan dari warna merah dan putih ? " Kata Dita.
  1. " Bu ! Mengapa bendera merah putih yang di kantor - kantor pemerintahan warna kok sudah tidak jelas. Apakah itu gambaran dari prilaku pejabat kita ? " kata Mamat
" Bu ! Mengapa bendera kita tidak mau berkibar dengan gagahnya di negeri ini ? Apakah itu sebagai isyarat kalau di negeri ini tidak kompak lagi antara pemerintah dan yang diperintah ? "Kata Manurung.
Mendengar pertanyaan dari murid – muridnya sang guru itu pun mengatakan” baiklah anak – anakku dari pertanyaan itu ibu guru akan berusaha untuk menjawab tapi setelah melihat fakta di lapangan agar jawaban ibu nanti tidak menjadi fitnah”. Insyaallah !



Abdul Basyid, S.Pd

Minggu, 30 Januari 2011

Bengkuang Magelung Siap Diorbitan

Bengkuang Magelung Siap Diorbitan
Oleh Abdul Basyid *
     
Kaliwungu  Selatan merupakan kecamatan baru di lingkungan  kabupaten.                    
Usianyapun belum genap lima tahun. Sebagai pecahan dari kecamatan kaliwungu,  Kaliwungu Selatan mempunyai  potensi yang sangat menjanjikan. Terutama potensi dari sumber daya  yang berupa  hasil kebun. Seperti bengkuang, pete, durian, rambutan dan lain - lain.
       Di antara hasil kebun itu, ada salah satu yang patut kita garis bawahi adalah  bengkuang / besusu. Bengkuang kecamatan Kaliwungu Selatan banyak dihasilkan oleh  petani desa Magelung dan Protomulyo.  Bengkuang yang dihasilkan oleh dua desa tersebut sangat luar biasa. Selain berukuran besar, kandungan airnya cukup banyak. Sehingga sangat menyegarkan  ketika di makan di musim kemarau. Apalagi jika untuk rujakan atau lotekan.
        Kualitas bengkuang yang dihasilkan desa Magelung dan Proto mulyo tidak terlepas dari kondisi geografis dan kontur tanah  desa tersebut. Secara umum semua desa yang ada di Kaliwungu Selatan berada 12 m di atas permukaan laut Jawa. Sehingga wilayah Kaliwungu Selatan banyak berupa bukit  atau tanah tegalan. Dan ditambah lagi curah hujannya pun lumayan mendukung untuk keperluan berladang  atau berkebun yakni 83 mm dengan rata – rata perbulan 7 mm. Bahkan sebagian dari tanah yang ada di desa Proto mulyo adalah tanah merah.
       Melihat bengkowang atau besusu yang belum tergarap pemasarannya secara maksimal oleh petani Magelung dan Protomulyo membuat kita prihatin. Memang harga bengkuang satu ikat hanya Rp. 3.500,00. Tapi paling tidak dengan menjadikan bengkuang sebagai ikon Kaliwungu Selatan. Maka sedikit banyak akan mempengaruhi harga di pasaran. Dengan demikian kesejahteraan petani bengkuang sedikit terangkat.
      Salah satu strategi yang belum dilakukan adalah memanfaatkan jalan pangeran juminah sebagai ruang etalase memajang bengkuang. Mengingat jalan Pengeran Juminah adalah jalan alternatif  menuju Solo yang lewat Kaliwungu. Belum lagi jalan tersebut merupakan jalan utama menuju obyek wisata Air Panas Gonoharjo dan Goa Kiskendo dari arah utara. Sehingga setiap hari Minggu atau hari – hari libur jalan tersebut ramai dilalui rombongan keluarga atau muda – mudi yang akan berekreasi. 
Campur Tangan Kecamatan
Kondisi belum maksimalnya mengemas bengkuang ini, karena kurang tanggapnya pihak pemerintah kecamatan. Jika pemerintah kecamatan sedikit peduli dengan menginstrusikan agar warga desa Magelung dan Protomulyo memanfaatkan pinggir jalan sebagai ruang untuk promosi bengkuang. Seperti ketika musim durian. Maka nantinya bengkuang akan menjadi sauvenir atau buah tangan bagi mereka yang bepergian / melintas di jalan Pangeran Juminah.
          Atau paling tidak pemerintah  memberi ruang untuk menjajakan hasil kebunnya. Sehingga para petani tidak terlalu membuang energi dan biaya. 
Cerry Prothol
          Salah keunikan dari Kaliwungu Selatan adalah tansportasi. Transportasi reguler yang dipakai masyarakat adalah Cerry Prothol atau cerry pick up. Cerry Prothol atau cerry pick up menjadi transportasi utama  yang melayani rute seluruh desa yang ada di Kaliwungu Selatan. Jumlah cerry prothol lumayan banyak yakni 75 buah, yang terorganisir dalam IPAPPA. Setaip harinya yang beroperasi mencapai 50 buah. Trayeknya dari pasar Sore Kaliwungu hingga desa Sido Makmur dan desa Jeruk Giling.
             Keberadaan cerry prothol sangat membantu mobilitas masyarakat Kaliwungu Selatan. Terutama untuk mengangkut hasil bumi ke pasar di sekitar Kaliwungu, seperti pasar Gladak, pasar Pagi, pasar Srogo, bahkan hingga ke pasar Johar Semarang. Jam operasinya pun dari pukul 04.00 hingga pukul 18.00 WIB.
             Pada pukul tertentu yakni antara pukul 06.00 – 17.30 WIB, cerry prothol mengangkut penumpang dari anak sekolah, karyawan, atau bahkan pegawai. Dari sisi ongkos  cerry prothol lumayan lebih murah dari ojek dan dari juga tidak terlalu lama menunggu.
             Terlepas boleh tidaknya cerry prothol dijadikan angkutan penumpang, tidak ada jeleknya jika keberadaan cerry prothol dikemas lebih indah dan menarik. Agar keselamatan penumpang juga terlindungi terutama dari panas dan hujan. Sehingga suasana nyaman berkendaraan tetap terpelihara. Seperti penambahan untuk sandaran punggung, tempat duduk, dan atap.
             Jika terealisasi bukan tidak mustahil cerry prothol akan menjadi ikon kedua setelah bengkuang.  

Abdul Basyid
 Penulis adalah sekretaris
Lembaga Seni dan BudayaMuslimin Indonesia
(Lesbumi) Kecamatan Kaliwungu Selatan
tinggal di Perum. Kaliwungu Indah
 RT 03 / RW 10                   




”BERIBADAT” LAH UNTUK PILKADA



”BERIBADAT” LAH UNTUK PILKADA
Oleh : Abdul Basyid

       Di tahun 2010 ini, ada 17 daerah tingkat dua di Jawa Tengah yang menyelenggarakan pesta demokrasi.  Salah satunya adalah kabupaten Kendal  yang pelaksanaannya hari Minggu tanggal 6 Juni 2010. Bahkan rencana tersebut telah disosialisaikan jauh –jauh hari dengan harapan masyarakat Kendal dapat berpartisipasi. .
        Terlepas dari sosialisasi atau promosi, masyarakat berharap pilkada tahun ini membawa kemaslahatan bagi kabupaten Kendal. Sehingga predikat  kurang baik untuk kabupaten ini dapat  tertutupi dengan proses pilkada yang fair play , elegan, dan penuh tanggung jawab.
         Untuk menghindari rendahnya partisipasi masyarakat dalam pilkada perlu disusun formula yang tepat sehinngga masyarakat termotivasi datang untuk menyampaikan hak suaranya sehingga masyarakat Kendalah yang menjadi pemenang utama dalam kegiatan tersebut. Salah satunya cara adalah dengan  mengangkat Slogan Beribadat sebagai nafas dalam pemilihan kepala daerah.
Nilai – Nilai Beribadat.
       Beribadat merupakan akronoim dari kata Bersih, Indah, Barokah, Damai, Aman dan Tertib. Kata – kata tersebut mempunyai  nilai – nilai  sekaligus harapan masyarakat kabupaten Kendal. Maka tidak ada salahnya jika nilai – nilai itu menjadi warnai dan barometer pilkada di kabupaten Kendal.
        Bersih. Bersih itu bebas dari kotoran ( KBBI : 125 ). Para calon bupati diharapkan juga seperti itu. Bebas segala berita miring, bebas dari prilaku negatif, atau bebas dari sangkaan korupsi. Mengingat  bupati adalah pejabat negara yang setiap harinya akan menjadi suri tauladan bagi masyarakat.
        Indah. Indah dalam KBBI mempunyai  dua arti. Pertama keadaan enak dipandang dan yang kedua indah berarti peduli ( KBBI : 376 ). Jika menilik arti tersebut dapat di simpulkan bahwa keadaan enak dipandang berhubungan dengan  penataan kondisi lingkungan. Sedangkan peduli mempunyai korelasi dengan kepekaan sosial. Maka sangat relevan bila  kata indah dalam slogan beribadat dijadikan program pada saat kampaye. daripada saling mencerca atau menyerang calon yang lain (black campaign). Isu kampaye yang pas dengan kata indah seperti strategi pengestasan kemiskinan, peningkatan pelayanan kesehatan, pendidikan murah dan berkualitas  di tingkat SMA, dan perlindungan terhadap pedagang kecil dan TKI.
        Barokah. Sebuah kata yang sering diucapkan, namun sulit untuk dijabarkan tapi dapat dirasakan. Kata barokah tidak ditemukan dalam KBBI. Yang ada kata Berkah. Berkah bermakna karunia tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia (KBBI:124). Dapatkah  hasil pilkada di kabupaten Kendal membawa berkah ? Kalau kita lihat akhir – akhir ini di seluruh Indonesia banyaknya persoalan yang menimpa pejabat negara  berujung di penjara. Masya allah.
         Cukuplah itu berhenti sampai di sini. Semoga pilkada di kabupaten Kendal memunculkan orang – orang yang membawa manfaat untuk kemajuan dan  kemakmuran masyarakat Kendal. Cerita masa lalu biarlah menjadi potret buram dan bahan renungan bersama.
         Damai. Damai bermakna tidak ada kerusuhan, aman, dan  rukun ( KBBI: 207). Menang sesuatu yang idamkan, kalah jangan sampai terjadi itulah cita -  cita para kontestan. Jika itu terus terpatri dibenaknya maka akan membawa dampak luar biasa. Yang ujung – ujungnya tidak dapat menerima hasil dari pilkada. Sehingga muncullah prilaku anarkhis.
           Rrilaku anarkhis sering mewarnai pelaksanaan pikada. Secara umum anarkhis dikelompokkan menjadi tiga yakni anarkhis prapemilihan, saat pemilihan, dan pascapemilihan. Anarkhis prapemilihan  seperti kampaye hitam, serangan fajar, atau pada tataran administrasi seperti DPT yang tidak valid, paksaan terhadap KPU, kertas suara yang rusak. Anarkhis di saat pemilihan juga sering muncul. Apakah itu pesanan atau rendahnya kualitas pelaksana. Seperti KPPS membiarkan para saksi berkeliaran di dekat bilik suara, meloloskan orang memilih dua kali.  Anarkhis pascapemilihan merupakan imbas dari dua anarkhis di depan. Yang akhirnya memunculkan brutalisme di tingkat bawah.           
         Aman. Banyak cerita tentang  ketidakpuasan hasil pilkada. Yang akhirnya memunculkan gejolak di daerah tersebut hingga berlarut – larut. Jika hal itu tidak diantisipasi sejak awal oleh para kontestan dan panitia penyelengra (KPU)ketentraman daerah itu menjadi taruhannya. Kondisi ini jelas bertentangan dengan kata aman yang diisyaratkan dalam kendal beribadat. Aman bermakna tentram ( KBBI: 29). Untuk itu mari kita canangkan empat aman yakni aman persiapan, aman pelaksanaan, aman perhitungan dan aman pelantikan.
         Tertib.  Tertib adalah teratur / sesuai dengan aturan (KBBI:1049). Dari definisi tertib sudah jelas pilkada dapat berjalan lancar jika semua kontestan mematuhi aturan yang berlaku. Hindari hal – hal yang tidak sehat seperti kampanye sebelum waktunya, mobilisasi PNS, saling fitnah, dll.  
           Ayo sudah saatnya kedepankan nilai beribadat pada saat pemilihan kepala daerah di kabupaten Kendal. Perkara siapa yang menang sepenuhnya adalah irodat Nya yang Maha Kuasa.
          
Abdul Basyid
 Penulis adalah sekretaris
Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia
(Lesbumi) Kecamatan Kaliwungu Selatan
tinggal di Perum. Kaliwungu Indah.

Nilai Mandiri Upacara Bendera

Nilai Mandiri Upacara Bendera
Oleh : Abdul Basyid, S.Pd

       Pagi itu  anak – anak berseragam lengkap  berduyun – duyun ke lapangan. Mereka terus berbanjar membentuk barisan dengan sikap yang sempurna. Pemandangan ini terus terjadi setiap pukul 07.00 pada hari Senin. Kondisi ini terus berlangsung sepanjang masa. Lebih hebatnya lagi anak melaksanakan rutinitas dengan penuh kesadaran. Mereka yang bertugaspun telah terlebih dahulu berada di lapangan. Peristiwa ini terkadang diabadikan oleh sekolah sebagai bentuk prestasi tersendiri.
       Lalu apa itu  upacara ? Upacara adalah kegiatan yang dilaksanakan di dalam atau di luar ruangan ( lapangan ) yang urut – urutan acaranya telah ditentukan atau ditetapkan oleh kantor / instansi yang terkait. Contoh upacara sekolah, upacara Hardiknas, upacara
Sumpah Pemuda. Untuk upacara sekolah berarti semua acaranya telah disesuaikan dengan Tata Upacara Bendera ( TUB ) yang dikeluarklan oleh departemen pendidikan dan olahraga.
        Mengapa setiap sekolah menyelenggarakan upacara bendera ? Banyak alasan yang disampaikan. Tapi secara umum sekolah setuju jika upacara dilaksanakan secar rutin di sekolah. Lalu bagaimana dengan siswanya ? Apakan mereka sepakat ! Untuk itu agar tidak terjadi kerancuan perlunya disampaikan kepada siswa bahwa upacara bukan semata – semata menunggu teriknya matahari. Tetapi ada tujuan dan manfaat yang lain. Seperti menumbuhkan rasa bangga bersekolah, sebagai ajang ta’aruf dan kompetisi antarkelas, tempat menyampaikan informasi dari sekolah, dan memotivasi siswa.

Memotivasi Siswa
          Motivasi  kepada siswa tidak harus disampaikan dengan bahasa verbal di kelas. Namun dapat pula motivasi disampaikan dalam bentuk nonverbal. Penyampaian motivasi nonverbal dapat dilaksanakan di saat upacara bendera. Yakni dengan cara penyampaian / penyerahan hadiah / reward kepada sisewa yang berprestasi. Dengan demikian semua siswa sekolah tersebut tahu jika sekolah sangat perhatian kepada siswa yang telah membuktikan kalau dirinya berjuang untuk sekolah.
          Proses penyerahan tersebut jelas menumbuhkan kebanggaan bagi siswa yang menerima atau yang melihatnya. Momen inilah bagi siswa akan menjadi motivasi tersendiri. Seperti penghargaan untuk siswa yang paling aktif pinjam buku di perpustakaan, kelas tergiat dan terapi dalam kegiatan sekolah, dll). Selain itu dapat penyerahan  prestasi di tingkat kecamatan, kabupaten ataupun yang lebih tinggi lagi.
Nilai upacara
           Kekhikmatan upacara bendera hari Senin sering dinodai oleh siswa yang tidak paham akan manfaat upacara bendera. Kondisi ini  biasanya langsung ditindaklanjuti oleh waka kesiswaan bersama STP2K yang telah berkoordinasi dengan BP.  Harapan dari tidak lanjut tersebut adalah agar upacara pada minggu depan tidak terusik oleh hal – hal  sebagaimana hari   itu.
         Kemudian selesai upacara pun diabsen untuk mengetahui siapa siswa yang tidak ikut upacara dan apa alasannya. Jika benar tidak ikut karena kesengajaan mereka juga diberi sanksi.
           Lalu bagaimana mereka yang selalu aktif upacara bahkan menjadi petugasnya ? Apakah sekolah memberikan nilai tersendiri ? Kondisi inilah yang sering kita lupa. Ketika ditanya jawabannyapun standar yakni nilai upacara inklud pada nilai PKn. Benarkah ? Padahal kalau kita lihat upacara merupakan bagian dari kegiatan kesiswaan. Terutama sekbib bela negara.
           Untuk itu, bagaimana jika pada raport siswa ada ruang tersendiri untuk nilai upacara. Alasannya
 1) Upacara dilaksanakan rutin pada hari Senin dan selalu diabsen;
 2) Adanya alokasi waktu yang terprogram yakni 1 jam pelajaran;
 3) Siswa harus berseragam OSIS lengkap;
 4) Adanya indikator yang jelas dari kegiatan upacara. 
           Semoga dengan adanya ruang penilaian tersendiri untuk upacara berbendera dapat
memberi rasa keadilan bagi siswa yang aktif dan yang selalu bolos di kala upacara bendera.
                                                                                             
   Abdul Basyid, S.Pd
   Pengajar di SMA N 1 Kaliwungu 



NU bukan Nunut Urip

NU bukan Nunut Urip
Oleh Abdul Basyid*

   Nahdlotul Ulama atau NU adalah jam'iyah diniyah ( organisasi keagamaan ) yang berdiri  pada tanggal 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926 M di Jombang Jawa Timur yang pandegani oleh K.H. Hasyim As'ari. Nahdlotul Ulama yang berarti kebangkitan para ulama.
   Tujuan didirikannya NU adalah memelihara, melestarikan, dan mengamalkan ajaran islam yang berhaluan Ahlussunah Waljamaah dengan menganut salah satu mazhab, serta mempersatukan langkah para ulama beserta pengikut - pengikutnya dan melakukan kegiatan - kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat serta martabat manusia.
Dari tujuan itu, jelas jika NU sebenarnya sangat peduli sekali terhadap sumber daya manusia dan kemajuan bangsa. NU menyadari betul bahwa semakin tinggi kualitas sumberdaya yang dimiliki sebuah bangsa akan berimbas pada kemajuan bangsa. Seperti Jepang, Jerman, dan lain - lain. Apalagi di era globalisasi informasi dan persaingan dunia usaha. Di mana pada masa ini manusia yang berkualitas dan berdedikasi tinggi mereka yang mampu memenangkan persaingan.
Di sisi lain NU juga harus membetengi ummatnya agar martabatnya tidak dirusak oleh arus globalisasi informasi. Banyak generasi emas bangsa ini yang berguguran di tengan jalan masa depannya karena tidak mampu menahan kuatnya arus globalisasi informasi. Bahkan yang amat disayangkan munculnya budaya kekerasan di setiap penyelesaian masalah. Mereaka lebih percaya kepada pentungan dan lemparan batu dari pada putusan pengadilan. Jika budaya kekerasan ini terus berkembang akan  mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang ujung - ujungnya dapat  mengusik keberadaan Pancasila dan NKRI. Padahal bagi NU Pancasila dan NKRI adalah final.
Menunggu Kebijakan Kang Said
Pasca muktamar NU 2010 di Makassar banyak kalangan intelektual muda NU  menunggu kebijakan strategis dari KH Agil Siraj selaku ketua  umum PBNU. Terutama kebijakan  yang berhubungan dengan  semakin rumitnya persoalan bangsa. Diantaranya  yang menyangkut hajat hidup orang banyak yakni masalah kebutuhan pokok dan pengangguran intelektual.
Jika dicermati secara jernih permasalahan tersebut tiap tahun terus terjadi. Ini seirama dengan berubahnya mainstrem masyarakat Indonesia yakni dari pertanian ke Industri. Melihat fenomena tersebut sebaiknya  PBNU melakukan refitalisasi  lembaga NU, seperti LP2NU, LAZISNU, LPKNU, LAKPESDAM. Agar mereka yang duduk dalam kepengurusan lembaga itu dapat berkarya lebih nyata untuk kemaslahatan ummat. Bahkan jika perlu ada reposisi dan koordinasi yang lebih intens ke tingkat bawah.   Dengan harapan semua program lebih terarah dan bisa dirasakan oleh ummat. Disamping itu juga akan menciptakan kemandirian.
Dan yang tidak kalahnya pentingnya atau bahkan lewat dibenak PBNU adalah masalah TKI. Persoalan TKI cukup menyita energi. Setiap tahunnya selalu ada TKI yang bermasalah dan selalu pulang paksa. Ironisnya yang berangkat pun juga banyak. Bahkan kebanyakan TKI tersebut dari kantong - kantong NU di tanah air. Maka tidak salahnya jika PBNU turut serta menyelesaikannya. Apalagi menteri menakernya dari  kader NU. Ditambah lagi NU memilik cabang istimewa di luar negeri. 

    
Abdul Basyid
Sekretaris Lesbumi kec. Kaliwungu Selatan
Tinggal di perumahan Kaliwungu Indah




NU Tidak Sekedar Tahlil, Manaqib, dan Qunut

NU Tidak Sekedar Tahlil, Manaqib, dan Qunut
Oleh Abdul Basyid*

     Tanggal 31 Januari usia Nahdlotul Ulama genab berusia 85 tahun.  Sebagai jam'iyah diniyah ( organisasi keagamaan ) NU mempunyai tanggung yang tidak ringan terutama yang menyangkut harkat dan martabat manusia ( ummat ). Apalagi di tengah   masyarakat yang sedang mengalami euforia   kebebasan memilih dan kebebasan berkenyakinan.
Melihat kondisi tersebut secara NU sebagai jama'ah atau jam'iyah harus berperan aktif dalam menyongsong perubahan tersebut. Mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah  NU dan kebanyakan berada di desa.
    Upaya proaktif dalam menyikapi kondisi perubahan jaman selaras dengan tujuan didirikannya NU yakni memelihara, melestarikan, dan mengamalkan ajaran islam yang berhaluan Ahlussunah Waljamaah dengan menganut salah satu mazhab, serta mempersatukan langkah para ulama beserta pengikut - pengikutnya dan melakukan kegiatan - kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat serta martabat manusia.
Dari tujuan itu, jelas bila NU tidak hanya berkutat dengan tahlil dan manaqib seperti yang dituduhkan organisasi lain. NU sangat peduli sekali terhadap kualitas hidup  manusia ( khoirul ummah) baik kualitas keilmuan maupun kualitas material. Karena itu, akan berdampak terhadap kemajuan bangsa. Dan ini oleh NU disadari betul, bahwa semakin tinggi kualitas sumberdaya yang dimiliki sebuah bangsa akan berimbas pada kemakmuran bangsa. Seperti Jepang, Jerman, dan lain - lain.
Di sisi lain NU juga harus membetengi ummatnya agar martabat dan kenyakinannya dirusak oleh arus globalisasi informasi. Banyak generasi muda  bangsa ini yang terpaksa berguguran di tengan jalan  karena  mereka  tidak siap menahan kuatnya arus globalisasi informasi. Ini bisa dilihat dari banyaknya  prilaku mereka yang menyimpang.     
Bahkan yang tidak kalah histerisnya adalah munculnya budaya kekerasan di setiap kali ingin menyelesaikan masalah. Mereka lebih percaya kepada pentungan dan lemparan batu dari pada putusan  sang pengadil.
Refitalisasi dan Reposisi Lembaga  NU
      Melihat semakin besarnya tantangan ke depan NU ke depan tidak ada salahnya jika NU melakukan refitalisasi semua lembaga yang berada di bawah NU. Buka kesadarannya, ubah maind sett nya dari aktif ke kreatif, dari apa yang harus saya kerjakan menjadi saya harus bekerja. Jika semangat itu tumbuh pada setiap pelaku organisasi maka  NU akan benar - benar NU. Bukan NU yang berarti nunut urip.
Gerakan Khoirul Ummah 
      Untuk menyukseskan gerakan khoirul ummah NU memantabkan tiga pilar jalur yakni dakwah, pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Jalur dakwah pada NU menjadi tanggung jawab lembaga dakwah NU ( LDNU ). Lembaga ini bertugas menyiapkan dai – dai muda  yang tanggungnya  melakukan sosialisasi tentang ajaran ahlussunah wal jamaah dan gerakan amal makruf nahi munkar di masyarakat. Di jalur pendidikan, NU memberi tanggung jawab kepada Lembag Pendidikan ( LP ) Ma'arif.
     LP. Ma'arif mempunyai otonomi penuh untuk menentukan strategi pembelajaran di sekolah – sekolah yang ada lingkungan NU. Mulai SD / MI hingga SMA.Sedangkan sosial kemasyarakatan di lingkungan organisasi NU cukup banyak. Baik yang bentukan PBNU atau PP. Muslimat. Yang bentukan PBNU seperti LP2NU, LAZISNU, LPKNU, LAKPESDAM dan lain - lain. Sedangkan yang  bentukan muslimat seperti panti asuhan, rumah bersalin, YKK NU, TK Muslimat dan lain - lain.
Semoga keberadaan Nahdlotul Ulama di tengah masyarakat dapat menciptakan ukhuwah wathoniyah, ukhuwah basyariyah dan ukhuwah islamiyah.  Amin.
Abdul Basyid
Sekretaris Lesbumi kec. Kaliwungu Selatan
Tinggal di perumahan Kaliwungu Indah

Cara Sehat Menghadapi Ujian Nasional

Bulan pertama di semester kedua  sebentar lagi berakhir. Pelaksanaan ujian pun tinggal menghitung hari ( 18 – 21 April ). Untuk siswa kelas XII pikiran  dan energi mulai tertuju ke ujian nasional ( UN ). Bagi pelajar  yang suka tantangan tidak ada alasan takut atau stress ketika akan menghadapi ujian nasional. Menurutnya ujian nasional itu menjadi begitu luar biasa karena pemberitaan media massa dan perdebatan pro dan setuju yang tak kunjung selesai.
      Bagi siswa yang suka tantangan ujian nasional,  merupakan kesempatan yang paling berharga untuk membuktikan kepada orang tua selama bersekolah. Sekaligus sebagai awal untuk untuk berkarya di masyarakat  bagi siswa SMA atau SMK yang tidak melanjutkan. Sedangkan  bagi siswa SD, SMP, dan SMA yang ingin melanjutkan uijan nasional merupakan kunci untuk membuka prestasi yang lebih tinggi.
          Agar ujian nasional dapat berbuah maksimal harus kita songsong. Salah satunya dengan resep empat sehat lima sempurna. Pertama Mengatur waktu. Waktu setiap hari tidak pernah berkurang atau bertambah yakni 24 jam. Siapa pun orangnya, apapun profesinya tetap mendapat jatah yang sama. Bagi siswa yang ingin sukses dalam uijan nasional langkah pertama harus dapat menyusun skala prioritas. Artinya hal – hal tidak perlu yang selama ini cukup menyita waktu, untuk sementara ditunda dahulu.
          Kedua Belajar. Memang belajar sudah dilakukan selama ini. Tapi untuk meyambut tamu istimewa yang bernama ujian nasional belajar harus sedikit dinaikan intensitasnya. Agar buah yang dihasilkan tidak mengecewakan. Tiga perbanyak variasi latihan soal. Setiap kali akan ujian nasional pemerintah terlebih dahulu mengeluarkan rambu – rambu soal / standar kelulusan. Dengan harapan belajar siswa lebih terarah. Disamping itu, siswa juga bisa menerka – terka soal – soal seperti apa yang akan diujikan nanti. Dengan memperbanyak variasi latihan soal insyaallah akan menambah perbendaharaan siswa. Ingat peribahasa lancar kaji karena diulang.
          Empat Konsultasi kepada guru. Salah satu penghambat kelancaran proses belajar mengajar adalah kurangnya komukasi antara guru dan siswa. Bapak ibu guru sudah membuka ruang seluas – luasnya, bahkan sampai pintu rumahnya dibuka  selebar – lebarnya untuk siswa yang mengalami masalah persiapan  ujian nasional. Baik itu masalah akademik maupun nonakademik. Bapak ibu guru tidak meminta imbalan sedikitpun dari kegiatan tersebut. Bagi bapak ibu guru keberhasilan siswa dalam melaksanakan ujian adalah sesuatu yang tiada terkira harganya. Bahkan melebihi dari 100 kali jumlah rupiah sertifikasi.
          Keempat resep tersebut jika dijalankan secara istiqomah, ujian nasional tidak lagi menjadi terror bagi siswa. Namun demikian, tidak ada jeleknya bila resep ujian nasional tersebut kita sempurnakan dengan yang kelima yakni berdoa.  Berdoa secara etimologis berarti "meminta kepada Allah" . Bagi mereka yang  mempunyai keinginan ( hajat)  ukhrawi maupun duniawi diharapkan lebih mendekatkan diri kepadaNya. Karena berdoa bukanlah untuk kepentingan Allah melainkan untuk kepentingan manusia itu sendiri. Maka janganlah diperdebatkan ketika istighosah atau doa bersama dilakukan guna memberi ketenangan mental siswa.
                                                                                                           
                                                                                                              Penulis  :
                                                                                                             Abdul Basyid, S.Pd
                                                                                                             Guru SMA N 1 Kaliwungu