Minggu, 30 Januari 2011

Tirakat Penepis Budaya Hedonisme

Tirakat Penepis Budaya Hedonisme
oleh Abdul Basyid

   Barang siapa mau bersyukur niscaya tuhan akan menambahkan keberkahan     kepadanya dan  bagi   yang mereka yang lalai dalam bersyukur, azab  tuhan   begitu perih. ....”

      Kata – kata suci tersebut sering kita dengar bahkan mungkin hafal.  Namun bila dicermati, kata – kata suci tersebut memiliki pesan moral yang sangat luar biasa, bahkan dapat menjadi  pengendali setelah memperoleh satu kebahagian.
      Memang akhir – akhir ini persoalan yang melanda negeri ini tidak kunjung selesai. Mulai persoalan harga diri bangsa,orang -  orang yang khianat ketika mendapat kepercayaan dari rakyat atau negara, hingga sampai masalah alam yang terus ingin mendapat perhatian kita. Kondisi ini diperparah lagi dengan munculnya prilaku kekerasan disetiap kali ingin menyelesaikan masalah.. Entah itu masalah sosial, olahraga ataupun agama.
       Munculnya peristiwa – peristiwa itu, adakah hubungannya dengan hakekat dari kata – kata suci tersebut ? Inilah yang menjadi tugas kita untuk menjabarkannya. Jangan sampai peringatan – peringatan yang sudah ada disikapi dengan persaan skeptis.
Refleksi  Rasa Syukur
        Syukur  dalam arti bebas adalah ucapan terima kasih. Kalau kita mendapat tanah yang subur, cuaca yang bersahabat serta alam yang indah sudah sepatutnya rasa syukur harus kita panjatkan kepada tuhan. Hal itu dilakukan dalam rangka untuk menghindari perasaan egocentris pada diri manusia.  Jika perasaan egocentris sudah menguasai manusia itu pertanda awal dari sebuah penyimpangan dalam berkehidupan.
        Untuk mengantisipasi hal itu, masyarakat banyak cara. Yang semuanya terkemas dalam budaya bermasyarakat. Bagi masyarakat Jawa implementasi rasa syukur kepada tuhan sudah berlangsung secara turun temurun. Perkara tehnis dan nama disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat. Seperti   Nyadran, Sedekah Laut atau Sedekah Bumi,  dan Tirakatan.
Tirakatan
        Bagi  masyarakat Jawa pelaksanaan tirakatan selalu dikaitkan dengan moment tertentu.  Salah satu  pelaksanaan tirakatan  adalah dalam rangka menyambut tahun baru hijriyah atau tahun baru jawa. Kemudian berkembang lagi setiap  malam pitulasan atau malam kelahiran. Demi kesuksesan  persiapan pun dilakukan jauh – jauh hari. Informasi disebarkan keseluruh warga.  Warga tumpah ruah mendatangi tempat yang menjadi pusat kegiatan. Makanan dibawa sendiri dari  rumah. Untuk menambah suasana lain malam itu, alunan musik diperdengarkan hingga sampai pagi hari.
         Potret pelaksanaan tirakatan seperti itu telah berlangsung sekian lama.  Apalagi di masa  sekarang ini.  Padahal  jika dicermati Tirakatan dari kata dasar tirakat secara etimologi  dari kata thuruq ( berarti jalan ) lalu toriqotan ( berarti jalan mendekatkan diri kepada tuhan ). Lalu apakah tirakatan yang sudah berlangsung sekian lama itu sesuai dengan rohnya ? Ayo direnungkan agar tirakatan itu benar – benar berbuah tirakat. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang – orang terdahulu.
          Orang – orang Jawa terdahulu memaknai tirakatan adalah nyawiji dengan gusti. Mereka memanfaatkan tempat – tempat sepi untuk melakukan kontemplasi.  Seperti di goa, tepi laut, atau di gunung – gunung. Tempat itu dipilih dalam rangka memudahkan dekat dengan yang maha kuasa. 
Tiga Pantangan
         Orang tua dahulu  sering mengatakan kalau mau berhasil harus banyak tirakat.  Jangan banyak polah  dan jajan. Puasa Senin – Kamis jangan sampai lupa. Jangan lupa pula bangun malam.
Sepenggal kata itu,  sekarang ini sudah jarang sekali terdengar.
         Secara tersirat kata – kata orang tua kalau dipahami banyak sekali pesan moralnya.  Bahkan bisa menjadi bahan evaluasi terhadap kegiatan tirakatan yang selama ini dilaksanakan. Seperti di setiap malam tahun baru hijriyah atau malam pitulasan.
         Tirakat  yang selama ini dilaksanakan dapat memberi kekuatan spiritual luar biasa kepada siapa saja. Terlebih lagi untuk menjauhkan budaya hedonisme atau konsumentarisme.  Agar tirakat dapat berhasil, paling tidak ada tiga hal yang harus dijauhi yakni sego,  sworo, dan wanito. Sego itu bermakna makanan atau hidangan. Dalam hal ini yang diinginkan adalah puasa. Sworo bermakna bunyi – bunyian atau iringan musik. Tapi yang lebih pas adalah terhindar dari pembicaraan yang mengarah pada ghibah / bergosip. Sedangkan wanito dalam tirakat perlambang syahwat. Banyak orang yang gagal tirakat ketika harus berhadapan dengan syahwat. Terutama syahwat kepangkatan dan  syahwat harta.
         Marilah dalam rangka menyambut tahun baru hijriyah 1432, kita jadikan malam tirakatan sebagai rasa syukur yang kaffah kepada Allah SWT.  Juga kita jadikan sebagai malam muhasabbah atas prilaku kita selama ini. Sehingga upaya untuk saling menyalahkan yang terjadi di negeri ini tidak ada di dalam hati kita yang paling dalam.


                                                                                                                        Abdul Basyid
                                                      Sekretaris Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia
                                                    Kecamatan Kaliwungu Selatan
                                                    tinggal di Perumahan Kaliwungu Indah  RT 03 RW 10

Membangun Semangat Kau dan Aku Satu

Membangun Semangat Kau dan Aku Satu
Oleh Abdul Basyid*
   Indonesia negeri yang kaya raya akan tradisi  rasa syukur terhadap tuhan Yang Maha Esa . Ini tercermin dari berbagai tradisi  yang masih   bertahan di tengah masyarakat. Seperti sedekah bumi, sedekah laut,  
puputan, dan lain - lain. Belum lagi dari ciri khas ketimuran yang mengedepankan nilai - nilai musyawarah dalam bertindak, sopan santun, ramah tamah, dan taat beribadah, hingga cerita - cerita rakyat yang berisi piwulang rasa bangga terhadap bangsa dan negara ini.
Budaya adi luhung yang begitu indah dan tinggi nilai - nilai edukasi religiusnya kini tengah  terusik oleh berita - berita di TV yang beraromakan  kekerasan. Seperti tawuran antarpemuda atau etnis diberbagai daerah, sentimen agama, gank montor, KDRT, hingga sampai ekses pilkada. Semua peristiwa terus berkembang dari hari ke hari, hingga aparat keamanan bingung tujuh keliling.
     Melihat potret di atas, muncul satu hipotesa bahwa kekerasan telah menjadi bagian dari budaya bangsa dalam menyelesaikan permasalahan.
Satu Nusa Satu Bangsa
Semangat satu nusa satu bangsa di negara ini betul - betul diuji. Baik dari dalam maupun luar. Kondisi ini sebenarnya sudah disadari semua komponen anak bangsa.  Tapi sayangnya ketika persoalan dikembalikan pada setiap individu muncul upaya saling menyalahkan atau merasa dirinya merasa yang paling benar. Jika sudah demikian  nilai - nilai kebhinika tunggal ikaan menjadi isapan jempol.
Secara sunatullah Indonesia memang negara yang diciptakan olehNya dengan ragam kenyakinan, ragam tradisi, ragam bahasa, dan ragam penampilan. Ragam yang beraneka rupa dari Sabang sampai Merauke pada dasarnya merupakan pembelajaran dari Allah kepada rakyat Indonesia. Yakni sejauh mana rakyat Indonesia yang terkenal religiusnya ini  bisa mengimplementasikan makna saling kenal ( li ta'arafu ) dalam bermasyarakat. Apabila makna saling kenal ( li ta'arafu ) dalam bermasyarakat dapat diwujudkan dalam bermasyarkat dan bernegara maka dengan sendirinya akan muncul rasa saling menyanyangi dan menghargai.
Kau dan Aku Satu
     Kekerasan terstruktur atau spontan yang terus terjadi dari waktu ke waktu serta meningkat  kualitas dan kuantitasnya, telah mengusik kenyamanan kita. Baik di saat bekerja, bermasyarakat atau beribadat. Dari sisi aktor,  ya itu - itu saja begitu pula dengan persoalannya  tidak jauh berbeda dengan persoalan terdahulu.  Untuk menghindari agar tidak berkembangnya budaya kekerasan  disekitar kita, mari  ciptakan semangat kau dan aku satu. Kau dan aku satu merupakan inti dari nilai - nilai kasing sayang.
     Apabila semangat kau dan aku satu ini digelorakan di tengah kemajemukan  bangsa ini maka  perasaan  merasa paling pintar, paling benar, paling hebat dengan sendirinya akan terkikis. Sehingga rasa saling menghormati, indahnya kebersamaan dan empati akan terus menjadi napas bangsa ini. Dengan demikian kekhawatiran hilangnya semangat nasionalisme dan patriotisme akan pupus        

Abdul Basyid
Sekretaris Lesbumi kec. Kaliwungu Selatan
Tinggal di perumahan Kaliwungu Indah